Babi, Demokrasi, Evolusi

Suatu waktu ada seekor babi berjalan sendiri di tanah lapang. Dahulu sawah, kini hanya berjengkal-jengkal tanah kering. Gerah, tak lagi lembab. Setetes airpun tak akan membantunya. Hanya akan membuat perih karena terkelupas dan keras.

Tak selamanya tanah ini kering. Dahulu tanah ini subur, dahulu tanah ini hijau. Bukan hutan, hanya kebun. Namun cukup untuk memberi makan ratusan hewan jinak. Namun cukup untuk memberi makan ratusan hewan polos.

Berbeda mereka, namun cinta mereka dengan sekitarnya. Ada yang percaya terbang itu jalan hidup. Ada yang percaya berenang itu pencarian akan kebenaran. Walau tak pernah akan mereka temui itu kebenaran. Hanya berputar di dalam empang seluas bagasi kijang kotak.

Ekosistem. Mereka sebut kebun itu, karena setiap biji dan tanah yang jatuh selalu memiliki arti dan memberi arti. Setiap sampah menjadi makanan, setiap makanan menjadi sampah, setiap sampah menjadi makanan. Begitu terus hingga subur tak nian kebun itu.

Subur nan harum nama kebun itu. Bebunga indahpun semakin banyak. Kupu-kupupun tiba dari segala ufuk. Indah rasanya setiap kepakan mereka. Haru rasanya tarian mereka bersama mahkota kembang.

Image result for trump pig cartoon

Tak lama, binatang lain datang. Kini tak seindah kupu itu. Binatang itu lapar, binatang itu garang. Paling tidak, parasnya garang. Seram memang. Kucing liar berwarna hitam. Tak banyak bicara, hanya menggeram tanpa arti. Atau setidaknya, tak ada yang paham arti yang ingin dia beri. Dia mengandung, lalu melahirkan lusa paginya. Enam anak berubah menjadi tujuh keturunan. Cepat kucing itu beranak, birahinya bagai pelacur tanpa akhlak.

Kucing itu tidak sendiri, ada juga serigala, ada juga kukang. Tidak lupa sekelompok kera liar juga sempat datang.

Mahsyurnya kebun itu seakan memanggil setiap spesies binatang di muka bumi ini untuk berkunjung. Subur memang kerap memanggil iri. Subur memang kerap memanggil birahi. Subur memang kerap memanggil ambisi.

Di kebun ini, semua tumbuh. Di kebun ini, semua jadi. Tidak hanya janji akan kerja keras. Namun hasil setimpal untuk usaha yang tuntas.

Si babi geram, si babi marah.

Bagaimana bisa tanah yang disuburkan induknya enam keturunan lalu itu, dijarah.

Bagaimana bisa orang asing mengambil hak asasinya yang hakiki.

Kata Tan Malaka, revolusi itu muncul karena keadaan.

Kata Tan Malaka, revolusi tak bisa dipimpin oleh tokoh.

Tan Malaka salah. Dia lupa seberapa kuatnya kebencian.

Dia lupa seberapa kuatnya rasa takut dan tidak kenal.

Si babi murka, si babi bergerak.

Dia himpun teman seadanya. Dia bangun pagar sebanyaknya. Dia usir binatang yang tak guna, dia kembalikan setiap jengkal lahan ke tuan tanah yang lahir disana. Tak peduli seberapa bodoh atau rentanya sang tuan. Tak peduli seberapa bodoh dan tuanya (mudanya) sang tuan.

Binatang memang sering lupa, hidup tak bisa tak bersama. Binatang memang sering lupa, berbeda bukan berarti tak bisa bercengkerama.

Satu harus mati untuk memberi hidup kepada yang terus mati.

Satu harus hidup untuk memberi mati kepada yang terus hidup.

Evolusi

Tak ada yang paham apa yang sebenarnya terjadi. Yang jelas melawan si babi tak ada nyananya. Yang jelas rumput tetangga semakin hijau.

Binatang pergi, binatang mati.

Mereka yang tak bisa bersuara, mereka yang tak bisa mendengar, pada hakekatnya akan mati tanpa arti.

Bukan raganya namun nyawanya.

Bukan raganya namun suaranya.

Binatang memang sering lupa, hidup tak bisa tak bersama. Binatang memang sering lupa, berbeda bukan berarti tak bisa bercengkerama.

Evolusi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s