Gereja Tua

Telah ia teguk setiap tetes dari anggur merah itu. Bersamaan dengan roti kecil yang ia celup kedalamnya.

Tubuh dan darah sang mesias.

Penebusan dosa.

Kedamaian dunia.

Kebebasan dari kematian.

Setidaknya, kepercayaannya akan hal itu telah menebus setiap titik darah yang ia tumpahkan.

Sejenak berhening, ia rapihkan serangkaian perangkat perjamuan dan menyimpannya kembali ke dalam tabernakel kecil di ujung ruangan.

Sebuah ruangan gelap, bersinarkan lilin, tak berisi, tak bersuara, besar.

Hanya sebuah kursi dan meja tempat dia bekerja. Menulis setiap rinci dari perjalanannya,

dari misinya.

Waktu sudah menunjukan pukul enam malam hari minggu itu.

Nampaknya, sebentar lagi hujan batu akan datang. Kayu pelindung sudah ia pasang di seluruh jendela dan pintu bangunan itu.

Kini yang bisa dia lakukan hanya bersujud seperti biasanya. Didepan patung tua sang mesias. Sang penebus yang tubuh dan darahnya ia nikmati tiap harinya. Merenung, mencari arti dari semua ini.

Mengapa ia tinggal.

Mengapa ia harus dibesarkan dengan kepercayaan itu.

Apa yang berbeda.

Sudah hampir satu tahun semenjak ia ditugaskan disitu. Seorang misionaris muda, menerima tugas pertamanya.

Tak pernah ia bayangkan ia akan berakhir seperi sekarang ini. Mengajar anak sekolah dasar agama.

Tugas itu seharusnya mulia.

Tugas itu seharusnya indah.

Namun mungkin takdir dan Tuhan bukanlah hal yang satu.

Tak lama setelah ia sampai, mereka datang. Menghancurkan dan mengusir setiap unsur yang tidak berkaitan dengan kepercayaan mereka dikota itu. Seakan, mereka mengenal Tuhan dan kebenaran dari siapapun yang ada disekitar mereka.

Yah, memang kepercayaan bahwa dunia ini adil itu hampa, bahkan Tuhannya pun diadili atas nama kepercayaan oleh dunia ini.

Lalu apa yang bisa ia lakukan?

berteriakpun hanya akan meneteskan darah yang lebih banyak lagi. Ia hanya bisa berlari.

Berlari

Berlari

Dan terus berlari.

Menahan setiap perih dari batu yang menerjang badannya.

Setiap ludah yang mencuci mukanya.

Setiap umpatan yang menyabdai pelariannya.

Sebenarnya, semenjak tragedi itu sudah lima kali ia dijemput oleh petingginya. Membebaskannya dari tugas yang bahkan sudah tiada.

Masa depan yang terhapuskan.

Namun entah mengapa, ia tinggal.

Meskipun hatinyapun tak bisa meyakinkan otaknya akan mengapa.

Ia tinggal.

Mungkin dia sudah muak lari.

Apapun itu, ia tahu bahwa waktunya sudah dekat. Ia kembali menatap ke patung tua didepannya, tersenyum seakan mencemooh keberadaannya. Sudah enam bulan ia bertahan disitu, berbekalkan seonggok tubuh mesias dan segalon darahnya. Menggunakan setiap bangku yang ada untuk memperbaiki bangunan tua tersebut.

Ia hanya bisa tersenyum, mencemooh setiap unsur dari kepercayaan yang selama ini dia punya. Mencemooh setiap manusia yang berbagi kepercayaan dengannya. Mencemooh sang petinggi yang sudah menelantarkannya selama ini. Mimpi indah memang ada di tidurnya.

Andai saja jemputan tersebut tak hanya di mimpi. Andai saja nyawanya lebih penting dari sekedar nama baik kepercayaannya. Yah tapi bisa apa lagi dia, bagaimanapun juga, dia ini hanya seorang misionaris muda yang terjebak dalam sistem monarkis sebuah kepercayaan. Nyawanya bukanlah apa.

Nampaknya minggu ini sedikit berbeda, minggu ini menandai awal dari bulan yang suci. Nampaknya, dia hanya akan menajadi noda hitam di bulan itu. Ya, dia sadar bahwa minggu ini, adalah serangan terakhir.

Ia kembali tersenyum.

“Mengapa ia tidak lari saja?”

ia juga tidak mengerti mengapa. Yang ia tahu hanyalah ia harus percaya. Entah pada apa. Entah pada siapa. Hanya percayalah yang ia bisa.

Bangunan itu mulai terbakar.

Bangunan tua yang sudah tak jelas lagi bentuknya.

Lonceng tua itupun jatuh. Membangunkan setiap cacing cacing malas yang tertidur dibawah kota itu.

Gereja tua ini sudah hancur. Gereja tua ini sudah runtuh.

Ia tetap bersujud disitu. Ia terlalu lemah untuk merasakan panasnya gereja itu. Kulit tubuhnya hampir bersatu dengan tulangnya. Perut kosongnya sudah menguras semua energinya. Sudah tak bisa ia rasakan panasnya api itu.

Gereja tua itu telah gugur.

Gereja tua itu, telah hangus.

Kini ia hanya akan menjadi berita kecil di surat kabar desa. Tak lebih besar dari cerita perjalanan seorang selebritas ke Italia.

Namanya dan gereja tua itu, tak ada satupun yang akan mengingatnya.

Gereja tua itu telah gugur.

Gereja tua itu telah hangus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s